Parenting

Parenting: Percakapan Absurd Icha & Me

Percakapan sederhana antara aku dan teman lama SMA, Farisati Izza alias Icha yang sekarang statusnya sama kayak aku, emak-emak bau kencur, alias ibu-ibu muda yang masih ingusan banget dalam merawat anak.

Oh, percakapannya mungkin nggak penting buat orang lain. Tapi buat aku ini membuka mata aku untuk melihat hal-hal lain yang nggak terjangkau sama aku.

Icha mengeluhkan dirinya yang sudah terlalu membiarkan anak perempuannya Kinan (2 tahun lebih, sebaya dengan Zayan) terlalu dekat sama gadget. Sedangkan aku, dengan bangga bilang kalau aku mampu mengatasi Zayan bermain Gadget

1 poin untuk aku, kan?

Tapi, Kinan udah lancar ngomongnya. Kalau di ajak ngobrol sama Umminya udah bisa berkelit (istilah Icha yang aku pinjam dari percakapan kami). Sedangkan Zayan, jangankan ngomong lancar, sebutin kata satu persatu aja malasnya minta ampun.

1 poin untuk Icha, kan?

Zayan udah lancar toilet trainingnya. Nggak perlu pakai diapers kecuali pas tidur. Sedangkan Kinan belum bisa lepas dari diapers.

2 poin untuk aku,

Kinan, udah bisa di ajak nyanyi sama umminya. Sedangkan Zayan ogah, kecuali kalau lagi mood dia aja. Dan parahnya lebih sering nggak maunya.

2 poin untuk icha

Udah kelihatan dimana inti dari percakapan ini? Continue reading “Parenting: Percakapan Absurd Icha & Me”

Parenting

Parenting: Ketika Ponsel Menjadi Anak Kedua Bagi Orangtua

Judulnya nggak keren ya …

Nggak apa-apa sih nggak keren, yang penting maksudnya ngena buat yang baca dan buat diriku sendiri ^^

Ini beneran terjadi lho, dan aku nulis ini bukan untuk ngomongin kejelekan orangtua lain dan mengatakan akulah the best parent … Aku cuma ingin belajar dan berbagai. Trus kalau ada yang membaca ini dan punya saran lain, kenapa nggak buat di dengarin. Karena itu lah aku nulis ini.

Jadi gini, beberapa hari lalu, masih dalam minggu ini juga, aku ngajak Zayan makan ice cream di salah satu cafe favorite dia di Meulaboh. Sesampainya di sana, teryata udah ada pengunjung lain, ngelihat mejanya masih kosong, aku cuma beranggapan, ibu itu udah pesan tapi makanannya belum datang, atau ibu itu juga sama kayak aku,nunggu pelayannya datang buat nanyain pesanan.

Pengunjung itu, adalah seorang ibu (kayaknya sih PNS atau guru gitu, karena pakai batik) dan dua anaknya, cewek dan cowok yang kelihatannya kayak sebaya. Aku sempat ngira kembar. Tapi intinya pokoknya anaknya udah cukup gede. Mungkin SD sekitar kelas 2 atau kelas 3. Bisa jadi lebih, karena anaknya yang cowok, hampir kelihatan kayak anak SD kelas 5 atau 6, tapi wajahnya masih kekanak-kanakan. Pokoknya begitulah … Udah dapat bayangankan?

Nggak sampai 10 menit, ternyata pelayan datang. Anaknya masing-masing dapat satu porsi Ice Cream Oreo, dan si ibu pesan nasi goreng ternyata.

Karena tidak ada pengunjung lain, mau nggak mau aku memperhatikan tindak tanduk keluarga kecil tersebut (ini entah kebiasaan jelek atau bukan, tapi aku memang suka mengamati orang) dari pertama kali aku datang, ketika pesanan mereka belum datang, si anak dan si ibu asik dengan ponselnya. Continue reading “Parenting: Ketika Ponsel Menjadi Anak Kedua Bagi Orangtua”