In My Room

Nolong Itu Harus Iklas

Aku bingung …

Tulisan ini termasuk menjelekan nggak ya?

Tapi menurut aku, asal nama orangnya nggak disebut dan nggak menyebutkan ciri-ciri yang mengarahkan pembaca untuk menebak siapa “tokoh utama” dalam cerita aku ini, aku rasa nggak masalah.

Apa kamu sependapat juga?

Lalu, kalau nggak aku tulis, aku nggak bisa ngebiarin ini terulang lagi.

Oke … kalian yang membaca dan kalian yang memutuskan. Apakah ini pantas aku tulis atau tidak

~*~*~

Kemarin, tepatnya tanggal 18 Juni 2017, aku menemani seseorang—dimintai tolong tepatnya— untuk mengantarkannya ke suatu tempat. Karena suatu dan lain hal, dia minta tolong ke aku. Oke, lagi bulan puasa, bulan baik, kenapa nggak coba nolongin orang. Hitung-hitung nambah pahala hehe ^^

Setelah aku ngantarin ke tempat tujuan, si Dia itu ngomong gini.

“Neng nanti tolong berhenti di tempat cendol ya. Saya mau beli bukaan buat kenalan saya. Kasihan, orang susah. Lagipula saya juga lagi ada rezeki sedikit.”

Wow … aku tersenyum kecil. Dia ini baik juga. Peduli sama orang lain.

Setelah itu, aku tanya mau beli dimana. Biasanya kan, orang punya langganan khsusus dimana beli bukaan. Kayak aku misalnya, aku selalu beli kue di warung dekat rumah. Selain dekat, kuenya juga enak. Kupikir siapa tahu Dia juga begitu.

Aku tanya, “Mau beli dimana?”

Dia bingung. Aku bawa motor pelan dan lambat. Takut ntar Dia minta berhenti mendadak.

“Udah disini aja.”

Kan bener dugaan aku. Dia minta berhentinya mendadak. Akhirnya aku berhenti di tempat jualan cendol pake gerobak di dekat pasar.

Aku Cuma lihatin aja, sempat ditawarin juga ke aku. Tapi aku nolak. Aku bilang udah beli bukaan di rumah. Ternyata Dia beli 3 bungkus. Dengan harga Rp 5.000,- per bungkus.

Setelah itu, kita jalan lagi.

“Neng nanti jangan lupa berhenti di depan rumah si Anu ya. Di bla bla …” katanya

“Iya.” Aku jawab

Dan kalimat Dia selanjutnya bikin aku spechleess

“Nanti kalau lupa saya nggak mau minum ini. Belinya di tempat jorok gitu.”

JDAARRRR!!!

Kayak disambar petir.

Memang sih belinya di pasar. Cuma nggak tahu dimana maksud dia tempat jorok. Sepenglihatan aku sih, Bapak yang jualan cendol itu jualannya agak jauh dari tempat orang buka lapak jualan khas pasar. Cuma yah memang cendol dan gerobaknya kelihatan sederhana. Sederhana banget.

Kalimat selanjutnya, bikin respect yang udah aku bangun untuk Dia luntur begitu aja.

“Karena kasih untuk orang sih nggak apa-apa. Kalau untuk saya sendiri, saya nggak mau beli disitu.”  Trus Dia ketawa …. KETAWA

Ya TUHAN!!!

Ini seriusan aku kehilangan kata mau ngomentarin apa.

Well, aku bukan Tuhan yang berhak ngenilai sikap dia itu. Aku juga bukan Tuhan yang berhak memutuskan apakah dia pantas nerima pahala atau nggak.

Tapi sebagai manusia biasa, boleh dong aku komentar. Karena menurut aku, kelakukan kayak gitu sangat tidak pantas. TIDAK PANTAS!!!

Pendapat aku: Aku selalu menaruh hormat banget, banget banget, sama orang yang mau kasih sedekah untuk orang lain. Nggak peduli walaupun Cuma makanan dengan harga Rp 15.000,-. Mungkin aku memandang makanan itu “Cuma” Rp 15.000,- tapi apa aku tahu bagaimana bahagianya orang yang menerimanya? Gimana senyum dan bahagianya dia, yang biasanya Cuma berbuka sama air putih doang, terus dapat cendol sebagai bukaan. Trus doa mereka yang ngalir untuk si Pemberi sedekah? Aku aja, walaupun gaji suamiku lebih dari cukup, masih jarang, malah sangat jarang, sedekah. Karena aku tipe milih-milih siapa yang mau aku sedekahin.

Tapi mendengar kalimat si Dia itu bikin aku …. apa ya. Aku nggak tahu gimana ungkapinnya pakai kalimat. Bahkan dengan tulisan aja aku masih belum bisa ungkapkan dengan benar gimana perasaan aku dengar kalimat itu.

Intinya sih, sedekah itu harus iklas. Karena pendapat aku, kalimat di atas udah menjelaskan dia nggak iklas.

Walaupun Cuma sedikit, tapi berikan yang terbaik menurut kita. Jangan mentang-mentang orang susah, bisa di kasih sembarangan barang aja. Bahkan kalau mau sedekah baju bekas pun harus ditengok, masih layak pakai atau nggak, bukan baju bekas udah robek-robek.

Kalau mau kasih makanan, ya pilih dimana tempat biasanya kita beli. Atau tempat dimana yang kamu yakin layak untuk diberikan kepada orang lain.

Aku berharap Dia ini bisa berubah. Jujur aja, aku nggak enak dan nggak berani ngomong sejujurnya ke Dia. Tapi, dengan tulisan ini aku berharap bisa menegur kalian semua yang mungkin pernah melakukan hal yang sama dengan Dia.

Ingat, sedekah itu bukan hanya sedekah. Bukan asal ngasih. Bukan asal memberi. Karena barang yang kita sedekahin itu nggak akan ada artinya kalau dibandingkan doa dia yang mengalir untuk kita. Bisa jadi kamu Cuma sedekah Rp 15.000,- tapi apa kamu tahu? Doa dia bisa membuka jalan rezeki 15juta? Nggak kan?

Kamu

Aku

Dan dia

Nggak akan pernah tahu seberapa kuat , seberapa beharganya doa-doa orang-orang seperti mereka.

Jadi, please, kalau mau sedekah, perhatikan kualitas barang yang kamu sedekahin.

Semoga kita semua menjadi lebih baik ^^

See u

Mwah

 

Advertisements

4 thoughts on “Nolong Itu Harus Iklas”

  1. Bener banget, sedekah harus ikhlas. Saya belajar dr adik saya, ngasih ke orang lain malah yg terbaik lho. Rizkinya malah banyak banget. Makin banyak ngasih, makin banyak lagi sedekahnya…
    Makasih ya sharingnya…Biarkan Allah swt yg menilai teman Mbak itu.

    Liked by 1 person

  2. Bikin kaget dan langsung gak respeck ya nemu orang model gini. Tapi saya banyak lho nemu yang kayak gini, misalnya alaaah buat dia aja pake beli yang bagus, kasih yang murahan aja pasti dia udah seneng. Dan kalo udah dwnger kayak gitu rasanya nano-nano, antara sedih, kesel, sebel…

    Liked by 1 person

    1. Bukan kaget lagi kak .. rahang saya kayak mau jatuh sangking syoknya …

      Tapi yah … dari kejadian ini saya belajar juga. Dia aja yang “kayak gitu” masih mending sedekah, nah saya sendiri masih milih-milih siapa yang mau disedekahin 😁

      Makasih ya kak udah mampir kesini

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s