Parenting

Parenting: Percakapan Absurd Icha & Me

Percakapan sederhana antara aku dan teman lama SMA, Farisati Izza alias Icha yang sekarang statusnya sama kayak aku, emak-emak bau kencur, alias ibu-ibu muda yang masih ingusan banget dalam merawat anak.

Oh, percakapannya mungkin nggak penting buat orang lain. Tapi buat aku ini membuka mata aku untuk melihat hal-hal lain yang nggak terjangkau sama aku.

Icha mengeluhkan dirinya yang sudah terlalu membiarkan anak perempuannya Kinan (2 tahun lebih, sebaya dengan Zayan) terlalu dekat sama gadget. Sedangkan aku, dengan bangga bilang kalau aku mampu mengatasi Zayan bermain Gadget

1 poin untuk aku, kan?

Tapi, Kinan udah lancar ngomongnya. Kalau di ajak ngobrol sama Umminya udah bisa berkelit (istilah Icha yang aku pinjam dari percakapan kami). Sedangkan Zayan, jangankan ngomong lancar, sebutin kata satu persatu aja malasnya minta ampun.

1 poin untuk Icha, kan?

Zayan udah lancar toilet trainingnya. Nggak perlu pakai diapers kecuali pas tidur. Sedangkan Kinan belum bisa lepas dari diapers.

2 poin untuk aku,

Kinan, udah bisa di ajak nyanyi sama umminya. Sedangkan Zayan ogah, kecuali kalau lagi mood dia aja. Dan parahnya lebih sering nggak maunya.

2 poin untuk icha

Udah kelihatan dimana inti dari percakapan ini?

Intinya sih lain orang tua, lain juga cara yang di ajarkan ke anak-anaknya. Ada kelebihan dan ada kekurangan yang pasti akan ada. Seperti aku dan Icha yang punya cara sendiri-sendiri buat ngajarin anaknya, sehingga anak-anak kami punya keunggulan dan kekurangan satu sama lain.

Nggak ada yang perfect, dan jangan menciptakan anak yang perfect. Itu hanya menjadi beban bagi anak dan beban bagi diri sendiri. Ketika ibu “menciptakan” skenario kehidupan yang akan dijalani anaknya saat dewasa nanti dan ketika skenario itu berjalan di luar jalur, siap-siap kecewa.

Oh, aku bukannya sok pintar kasih nasihat. Tapi pengalaman aku sebagai seorang anak (dan hingga sekarang masih menjadi seorang anak) membuat aku paham bahwa orang tua juga memiliki kesalahan dalam mendidik anak. Aku nggak akan munafik dengan mengatakan kalau aku selalu senang dengan apa yang mama ucapkan. Banyak hal dan terlalu banyak cara mama yang aku nilai salah dalam mendidik anak. Aku sebutkan aja satu yang paling umum, mama suka sekali membanding-bandingkan aku dengan orang lain. SUKA dan SERING sekali. Sampai sekarang, itu masih dilakukan. Itu hanya satu, dan masih ada yang lain.

Dan aku nggak pengen ngelakuin hal yang sama untuk Zayan. Aku tahu bagaimana sakit hatinya ketika dibanding-bandingkan, jadi stop membandingkan anak-anak.

Tapi, HAL PENTING yang aku dapat dari mama adalah kasih sayang dan cinta mama itu menjadi patokan juga buat aku mencintai Zayan. Nggak ada nilai yang bisa menggantikan dan tidak ada batasan.

Biarkan anak-anak berkembang dengan caranya sendiri.

Contohnya di atas.

Kinan dan Zayan itu usianya Cuma beda 4 hari.

Sama-sama lahir bulan 10

Sama-sama lahir tahun 2014

Beda tanggal aja.

Zayan tanggal 1

Kinan tanggal 5

Dan lihat kan perbedaan keunggulan Kinan dan Zayan?

Jadi buat apa pusing, anak si A udah pintar ngomong, anak aku kapan ya?

Anak si A udah pintar nyanyi, pakai bahasa inggris pula, anak aku kapan ya?

STOP

Hentikan kebiasaan itu!!

Anak itu bukan target kesuksesan yang harus di ajari ini itu untuk unggul dari anak orang lain.

Ada hal yang lebih penting, dan kalau kamu seorang ibu yang “sehat” pasti tahu apa.

~~~

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s