In My Room

Dua Kisah Cara Menggunakan “Kesuksesan”

Kali ini aku kayaknya bakal sedikit bergosip. Eits tapi niatnya sih buat untuk mamerin siapa yang lebih baik dan benar, aku Cuma belajar dari dua orang yang akan menjadi tokoh utama dalam tulisan aku kali ini. Dan semoga kamu juga bakal tersentuh dan bakal mengikuti cara mereka menikmati kelebihan yang mereka miliki.

Tulisan ini aku buat nggak hanya dalam sejam, semalam atau sehari. Aku butuh beberapa riset dan observasi yang aku lihat berdasarkan apa yang mereka share dan akun sosial media mereka. INGAT!! Ini hanya sebatas observasi aku apa yang aku lihat secara langsung dengan apa yang mereka share di sosmed. Lagian aku juga nggak berani nanya secara langsung, takut nggak sopan.

Aku nggak akan sebutin nama, jenis kelamin atau apapun yang mengindikasikan siapa mereka sebenarnya. Aku Cuma bakal menyebut mereka dengan sebutan KIP dan BIP … KIP dan BIP ini juga tidak saling kenal. Mereka dua orang asing yang secara latar belakang mirip.

Aku kenal KIP dan BIP ini udah lama. Bilanglah sekitar hampir 8 – 9 tahun. Dan aku mengenal keluarga mereka, mengenal secara sekilas. Setidaknya aku tahu jumlah saudara-saudaranya dan apa pekerjaan orangtua mereka. Dan percayalah, mereka berdua bukan orang berada atau berkecukupan, ini salah satu kenapa aku pengen ngeshare ini.

KIP dan BIP sama-sama bukan orang berada.

KIP dan BIP sama-sama bekerja keras untuk menduduki posisinya sekarang (read: sukses)

Perbedaannya adalah bagaimana KIP dan BIP menunjukan kesuksesan itu (setidaknya di mata aku, kesuksesan itu punya arti yang berbeda)

Kesuksesan bagi aku itu adalah ketika seorang anak mampu membahagiakan orangtuanya, tidak hanya dinilai dari materi, tapi dari bagaimana kebanggan orangtua saat melihat anaknya yang sekarang.

Sejauh yang aku lihat, KIP memilih membahagiakan kedua orangtuanya terlebih dahulu sebelum memilih menikah. Ia berhasil membuat tempat tinggal yang nyaman untuk orangtuanya, dan ia juga berhasil membuat senyum di wajah orangtuanya (berdasarkan foto yang dishare di sosmed-nya) dan ia juga tidak pernah pamer ketika duduk/ngumpul bersama kami, teman-temannya. Sama sekali ia tidak pernah menyinggung ataupun membuat temannya risih dengan kesuksesan yang ia punya. Ia tetap KIP yang dulu aku kenal. Yang membuat ia berbeda adalah penampilannya yang penuh wibawa.

Yup, penampilan. Dia bukan tipe orang gila merk mahal, tapi ia GILA kerapian dan kebersihan yang membuat penampilan sederhana dia terlihat “mahal”. Dan Percaya sama aku, dengan kesuksesan yang ia punya sekarang, pakaian apa pun yang ia pakai terlihat mahal.

Berbeda dengan BIP

Aku melewati rumahnya beberapa minggu lalu, dan rumahnya itu kondisinya (maaf cakap) nggak pantas untuk seorang BIP yang udah sukses. Oh rumahnya sih nggak jelek-jelek amat, tapi kalau dibandingkan dengan KIP, masa BIP tega membiarkan orangtuanya tinggal ditempat kayak gitu. Di akun sosmed BIP, ia lebih sering pamer hobi dia yang mahal-mahal banget. Seriusan MAHAL. Aku nggak main-main waktu bilang ini, karena pengakuan dia sendiri dan hasil dari barang-barang yang ia pamerin. Dan kalau kalian jadi aku, mungkin kalian bakal ngomentarin juga kondisi rumah orangtuanya yang biasa aja.

Anggap aja aku orang nyinyir, dan komentar pedas yang terlintas dipikiran aku adalah “Punya banyak duit kok rumah orangtuanya aja nggak dibenerin. Minimal renovasi kek biar cakepan dikit.”

Mungkin bisa saja aku salah karena menilai dari luarnya, tapi aku nggak bisa menghentikan cara berpikir BIP menggunakan kesusksesannya. Selain membuang uang untuk hobi-hobi yang mahal, dia juga suka belanja-belanja barang-barang dengan merek yang terkenal. Beli handphone dengan model terbaru. Dan kalau kita udah ngobrol, itu dia sering nyebutin harga barang-barang yang dia beli tanpa aku minta. Bukan bermaksud buruk sangka, tapi aku nggak nanya, untuk apa coba dikasih tahu?

Berbeda dengan KIP, BIP ini sama sekali nggak peduli sama penampilan. Di sisi lain sih bagus, tapi masa iya sih pake jam bermerk, sepatu bermerk, tapi penampilan sendiri kayak orang susah (maaf cakap sekali lagi).

Udah dapat kan dimana inti dari tulisan ini?

Seriusan, sekali lagi aku nggak cari siapa yang paling baik dan benar kok. Cuma aku heran dengan kedua temanku ini menggunakan kesuksesannya.

Aku sih lebih senang dan selalu tersenyum senang melihat KIP menggunakan kesusksesannya. Nggak ada sedikit pun dalam hati aku sirik, iri dan dengki ketika dia “pamerin” kebahagian dia. Karena apa? Ada orang yang pantas dia bahagiakan ikut serta dalam aksi pamernya.

Berbeda dengan apa yang selalu aku rasakan ketika udah ngobrol sama BIP,  nggak tahan buat aku nggak nyinyirin BIP. Tapi dalam hati aja haha … karena aku nggak suka di nyinyirin, jadi nggak mau nyinyirin orang.

Mereka berdua adalah contoh orang-orang yang bekerja keras dari bawah, dari nol. Tapi cara mereka menggunakan kesuksesan mereka sangat berbeda. Awalnya sih aku pikir, orang yang “susah” dari awalnya akan menghargai uang ketika mereka sukses, dan aku paham sekarang, tidak semua orang kayak gitu. Ada yang mengejar kesenangan dunia semata, sampai lupa ada orang-orang yang perlu dibahagiakan.

Perubahan itu pasti terjadi, tapi bagaimana orang menyingkapi perubahan itu yang sulit. Apakah mereka mengikuti arus perubahan itu atau tetap bertahan menjadi diri sendiri.

Note: Sekali lagi aku ingatin, ini hanya apa yang aku lihat dari luarnya aja. Mungkin bisa salah. Ambil aja pesan yang udah aku selipkan dari kisah di atas. Bisa aja kan ada KIP & BIP lain di luar sana. Mereka berdua hanya contoh aja kok.

Sampai jumpa ^^

~~~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s