In My Room

Boleh Percaya Nggak sih?

Mentang-mentang blog ini isinya bukan fiksi atau review, bukan berarti aku juga bebas curhat di sini. Aku tahu batasan yang mana aku share dan yang mana aku pendam sendiri (walau lebih banyak yang aku pendamnya) karena aku cewek yang udah nikah, punya anak dan suami, nggak pantas dong kan misalnya aku curhat tentang suami yang pelit. Misalnya, ya MISAL—soalnya ada beberapa orang nyolot banget, walaupun udah aku bilang pakai misal, tetap aja disangka beneran. Jadi sebelum ada yang nyolot, kita capslock aja katanya wkwk

Ngomong-ngomong curhat, aku punya cerita curhat sama orang yang salah (eh, ini masuk curhat nggak sih? Haha kadang nggak konsisten juga ah) anggap aja ini berbagi pengalaman supaya yang lainnya bisa lebih hati-hati.

Aku nggak akan jelasin waktunya kapan, siapa dan dimana. Yang jelas aku curhat dan dia janji nggak akan bongkar. Beberapa waktu kemudian, aku dengerin curhatan aku itu keluar dari bibir orang lain lagi.

Aku nggak tahu gimana rasanya, dan kayaknya aku lupa gimana rasanya. Aku mau marah, mau nangis, mau teriak tapi … ah aku bisa aja cari ribut sama yang bersangkutan, tapi lagi-lagi aku masih punya hati. Biasanya sih orang nggak selamat kalau cari masalah sama aku, tapi sekali lagi, udah cukup dewasa lah untuk bertengkar gara-gara hal kayak gitu. Meski “hal kayak gitu” itu adalah aib kita.

Disini intinya adalah kepercayaan, kok tega ya ada yang melanggar kepercayaan aku dan membeberkan rahasia aku.

Pernah dengar nggak kalimat ini, butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan keperayaan, hanya butuh sedetik saja untuk menghancurkannya dan butuh seumur hidup untuk memperbaikinya

Resikonya besar kan ternyata, tapi kenapa tetap aja dilakukan?

Trus aku mikir lagi.

Mungkin bukan dia yang salah. Bisa jadi, aku juga salah. Mungkin aja aku pernah bikin dia sakit hati atau bikin dia kesal, sampai dia tega berbuat gitu.

Apa pun alasannya, aku nggak pengen cari-cari alasan untuk membenarkan diriku sendiri atau alasan untuk menyalahkan dia .

Terkadang, untuk beberapa hal, aku lebih suka nyalahin diri sendiri. Ini penting buat aku, karena dengan begitu aku belajar. Belajar untuk memilah siapa yang harus dipercaya dan enggak. Dan aku yang saat itu kapok, bilang STOP sama diriku sendiri kalau mikir untuk curhat. Mending aku salurkan kemana gitu, bikin cerpen atau novela.

Terus, kayaknya aku nggak mudah kapok.

Aku pernah baca buku (ini, lupa judul bukunya apa.Perasaan sih baru-baru ini aku baca, tapi yah pokoknya lupa) katanya sih mempercayai dan mencurahkan isi hati pada orang asing lebih mudah dilakukan. Karena hubungan yang terjalin, tidak terlalu intim, bisa jadi orang asing tersebut akan melupakan cerita kita, dan dia pun nggak punya alasan khusus untuk membeberkannya ke orang lain. Berbeda kalau kita curhat dengan teman dekat atau pacar.

Nah hubungannya denganku adalah, aku pernah menceritakan kisahku kepada orang asing. Aku pikir, yah paling juga berhenti dan kita nggak akan komunikasi lagi. Tapi dari sebuah komunikasi, timbul komunikasi lain dan akhirnya jadi dekat. Statusnya tetap orang asing. Tapi dia membuat aku nyaman hingga membuat aku terus mau menceritakan kisahku.

Well, kekerasakan kepalaku itu berbuah saat aku menyadari menyesal mempercayakan kisahku pada orang tersebut. Aku yang percaya dan yakin, dia akan ada untuk dengerin cerita aku, malah nggak jelas kemana menghilangnya.

Sebenarnya bagus. Cuma ya tetap aja ngerasa ada yang hilang. Itu malah bikin perasaan aku getar getir ngebayanginnya. Gimana simpati dan rasa peduli yang ditunjukan. Dan gimana rasanya ketika mendapatkan perhatian itu.

Dan setelah itu, aku benar-benar berhenti percaya kepada siapa pun. Mau itu orang asing atau bukan,aku lebih suka simpan semuanya sendiri. Atau paling nggak, kalau nggak tahan lagi, aku bikin sebuah fiksi yang bisa menggambarkan emosi aku. Itung-itung latihan menulis lagi.

Yah, curhat sih boleh. Tapi kalau memang mau curhat sama teman, pastikan dia benar-benar bisa di percaya.

Seandainya kamu tipenya samaan kayak aku, gampang cerita sama orang asing, perhatikan untuk nggak terikat secara emosi sama dia.

Semoga kamu nggak terjebak dengan masalah yang satu ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s